Tuesday, February 10, 2015

adakah kawan yang seperti matahari ?

matahari mulai menghilang di sore hari
seolah ia pergi meninggalkan bumi
tetapi satu hal yang pasti
ia selalu kembali di pagi hari
walau terkadang menyembunyikan diri

adakah sosok kawan seperti matahari ?
yang pergi dan tak lupa untuk kembali

terkadang aku lupa sosok seorang kawan
yang entah sibuk dengan bermacam alasan
yang terkadang kembali datang
saat ia sendirian tak ada kawan

terkadang aku lupa indahnya kebersamaan
lupa cara tertawa bersama-sama
karena pada kenyataannya
raga kami terlihat sedang bersama
namun semua fokus dengan gadget di tangan

masih berlakukah ungkapan kebagiaan dalam kesederhanaan
saat semua mulai berlomba memamerkan kekayaan

aku hanya anak biasa
untuk memiliki sesuatupun harus ekstra usaha
maaf jika aku tak bisa
mengikuti gaya kehidupan kota
dan aku terima
jika akhirnya kita tak bisa kembali bersama

Monday, January 26, 2015

Untukmu Pendetaku

Puisi Pengakhiran Masa Pelayanan Pendeta : Pdt. Johan Hendrik Mentang, S.Th

25 tahun engkau melayani
Melayani dengan sepenuh hati
Tak pernah engkau merasa terbebani
Menghadapi jemaat yang sebanyak ini

Kau ajar kami mengenal Tuhan
Dan tak segan engkau berbagi ilmu pengetahuan
Caramu yang sungguh mengagumkan
Membuat kami sulit melupakan

Pendetaku . .
Jangan pernah lelah
Bekerja di ladangnya Tuhan
Karena engkaulah
Terang dan garam bagi dunia yang membutuhkan

25 Januari 2015

Selamat melayani di tempat yang baru untuk Bapa Pendeta, Ibu dan Ceri :)
Mohon maaf untuk setiap kesalahan yang ona lakukan, entah itu sengaja ataupun tidak. Maaf pa, bu, untuk kesalahan terbesar selama ona menjabat jadi ketua pemuda belum bisa memberikan hasil yang maksimal, belum bisa jadi pemersatu pemuda remaja, dan justru malah semakin memecah. Usia sudah memasuki dewasa tapi belum bisa membantu bapa, ibu dan majelis jemaat untuk bimbing pemuda remajanya, belum bisa mengontrol emosi dengan baik :') Semoga di tempat yang baru, ga ada anak yang keras kepalanya seperti ona ya pa, bu, biar bapa, ibu sama ceri selalu inget ona hehe :D
Terimakasih untuk semua pelajaran yang boleh ona dapatkan, banyak pengetahuan yang ona dapat dari bapa dan ibu, bukan hanya tentang pelayanan, tapi tentang banyak hal. Terimakasih juga untuk kesebarannya ngajarin preman gereja ini hehe :D selalu ingat kata-kata ibu dulu saat awal-awal ona pake dress, ibu bilang "tuh kan premannya jadi cantik kalau pakai rok" hihi :D
Maaf kemarin belum sempat ona ungkapkan langsung sama bapa dan ibu, jadi ona ungkapkan lewat blog gapapa ya pa, bu :) soalnya ungkapin langsung ga bisa, takutnya malah nangis duluan sebelum bicara :D
Jangan lupain ona ya pa, bu :D Jaga kesehatannya selalu, ona sayang bapa pendeta, ibu dan ceri :)
God bless :)

Friday, December 5, 2014

Lirik Lagu Apa Arti Natal - Delon

HARI INI TELAH LAHIR
BAGIMU JURU SELAMAT
DALAM KESERDEHANAAN
BAYI YESUS LAHIR DI PALUNGAN

BERSUKA CITALAH SEMUA
BERSINARLAH TERANG
KARENA CAHAYA WAJAHNYA
HIDUP KITA MENJADI LEBIH INDAH

APA ARTI NATAL ?
APA ARTI NATAL BAGIMU ?
APAKAH PESTA DI DUNIA ?
ITUKAH NATAL BAGIMU ?

NATAL DIGAMBARKAN
YESUS LAHIR DIKANDANG DOMBA
UNTUK MENEBUS DOSA DUNIA
ITULAH NATAL BAGIMU

JIKA KITA MERASAKAN
NATAL TAK BERMAKNA
BUKALAH PINTU HATIMU
TERIMALAH BAYI YESUS DIHIDUPMU

APA ARTI NATAL ?
APA ARTI NATAL MEREKA ?
KESENDIRIAN, TANPA HARAPAN
ITUKAH NATAL MEREKA

YESUS SAHABAT SEJATI
SEMUA DIHADAPANYA SAMA
NATAL ADALAH PERISTIWA
SEMUA INSAN KAN BAHAGIA

TERIMALAH YESUS DIHIDUPMU
ITULAH NATAL BAGIMU

Lirik Lagu Kasih Bapa - Judika

seperti mentari yang bersinar,
seperti itu kasih Bapa,
seperti gelombang samudra,
takkan pernah berhenti Kau mengasihiku.

seperti tingginya langit biru,
demikian tinggi kasih Bapa,
sedalam lembah bayang maut,
demikian dalam Kau tebus hidupku.

Reff:
kasihMU lebih dari mentari,
yang tak pernah berhenti memancarkan sinarnya.
cintaMU lebih dari samudera, tenggelam ku di dalam kesetiaanMU Tuhan,
terima kasih atas cintaMU.

Kau mengasihiku.
Kau mengasihiku.
Kau mengasihiku.

terima kasih Tuhan,
Kau mau tebus hidupku,
terima kasih atas cintaMU.

Lirik Lagu Serahkanlah Bebanmu - Delon

GELAPKAH JALAN DIKEHIDUPANMU
KAU LETIH KAU PERNAH KECEWA
GENTAR HATIMU MENGHADAPI SEMUA
DAN TAK PERNAH KAU TEMUKAN JAWABNYA

MESKIPUN T’LAH KAU COBA DENGAN KUATMU
TAPI SEMUANYA TAK BERARTI
WALAUPUN DENGAN S’GALA TANGIS DAN AIR MATA
TAK PERNAH KAU TEMUKAN JAWABNYA

Reff:
SERAHKANLAH BEBANMU PADA YESUS
DIALAH YG SANGGUP MENGATUR HIDUPMU
DIA LEBIH DARI JAWABAN YANG KAU PERLU
YESUS PENOLONG YANG SETIA

DISAAT KAU RAGUKAN AKAN KASIHNYA
INGATLAH SELALU JANJINYA
DIA TETAP SERTAI KITA HADAPI HIDUP INI
HANYA DIALAH JAWABAN BAGIMU

Lirik Lagu Natal Kasih Terindah 5 Divo (Judika - Mike - Sammy Simorangkir - Delon - Rio Febrian)

Bersukacitalah
Mari sambut sang raja damai
Juruslamat dunia
Datang tuk menebus umatNya
Kabar sukacita untuk kita semua
Yang berharap kepada Nya

Reff:
Natal adalah kisah kasih yang terindah
KasihNya selamatkan setiap dosa manusia
Natal adalah kisah kasih yang terindah
Tuhan beserta kita Immanuel

Monday, November 24, 2014

Drama Natal Ibu-ibu (Kaum Perempuan) - "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya"

TEKS DRAMA NATAL IBU-IBU (KAUM PEREMPUAN) TERBARU 2014

Untuk teks asli dalam format word bisa via email : monaa_onaa@yahoo.com , dan untuk pertanyaan atau komentar bisa langsung coret-coret dibawah atau via email monaa_onaa@yahoo.com, fb : https://www.facebook.com/monalisa.silaen, twitter https://twitter.com/mona_onna . terimakasih Tuhan memberkati :)

 
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya”

Narator     :   “Pada suatu sore berkumpulah ibu-ibu komplek heboh menceritakan tentang gosip terbaru yang mereka tahu”

*IbuRadit, Ibu Ester, Ibu Naomi danIbu Luna, berkumpul duduk lesehan di panggung*

I. Radit     :   “Eh ibu-ibu, tau ga berita yang lagi heboh di komplek kita ini ?”
I. Ester      :   “Yang tentang Jeng Oki ituya ?”
I. Radit     :   “Iya bener bu”
I. Naomi   :   “Berita apa bu? Saya belum tau”
I. Luna     :   “Saya baru pulang dari Singapore, ketinggalan berita nih”
I. Radit     :   “Itu loh Jeng Oki baru beli rumah sama mobil baru, rumah nya gede banget ibu-ibu”
I. Luna     :   “Pinky swear kitty swear banana cherry strawberry swear ? seriusan bu ?”
I. Radit     :   “Alamak ga percaya dia, ya benarlah bu”
I. Ester      :   “Hebat ya, tapi aneh ga sih ibu-ibu, suaminya kan cuma karyawan bank kecil, terus Jeng Oki kan Cuma diam di rumah, masa bisa secepat itu punya harta banyak”
I. Naomi   :   “Jangan-jangan suaminya ikutan cara pejabat-pejabat sekarang, itu lho yang koperasi”
I. Luna     :   “Korupsi bu, bukan koperasi”
I. Naomi   :   “Tadi kan saya bilang begitu bu”
I. Radit     :   “Eh tapi kita ga boleh sembarangan bu, siapa tau itu bener”
I. Ester      :   “Ssstttssttt, Jeng Oki jalan ke arah sini tuh”

*Jeng Oki berjalan memasuki panggung*

Jeng Oki   :   “OMG Hellooww, rakjel duduknya emperan, ga kece keles, iyuuhh. Sebentar-sebentar saya mau selfie eh groufie dulu, biar upload di facebook with rakjel, yuu ibu-ibu bikin gayanya ‘peace’. Oke nanti saya masukin facebook aah ”
I. Naomi   :   “Eh rakjel apa jeng ?”
Jeng Oki   :   “Rakjel itu rakyat jelata, iyuuhh”
I. Radit     :   “Baah sembarangan kau bilang kami rakyat jelata, jadi kau apa hah ?” (nada emosi)
Jeng Oki   :   “OMG Helloww, selooww aja keles ga usah sensi begityuu”
I. Luna     :   “Eh ibu ini ko ngomongnya sembarangan banget ya”
I. Radit     :   “Mau aku cakar orang ini bah” (emosi sambil berdiri)
Jeng Oki   :   “Eeh eehh jangan dekat-dekat” (menjauh/menghindar)

*Ibu Pendeta masuk*
I. Pendeta :   “Lho lho ada apa ini ibu-ibu ?”
Jeng Oki   :   “Nah ibu kebetulan datang, ini masa saya mau di cakar bu”
I.Pendeta  :   “Nah lho kenapa ibu-ibu ?”
I.Radit      :   “Ibu Pendeta, Jeng Oki ini dari tadi bikin kami emosi, bicaranya itu macam dia yang punya ini portibi”
Jeng Oki   :   “OMG Helloww, ibu Pendeta saya kesini dengan maksud baik ko, saya mau mengundang ibu-ibu ini ke acara syukuran rumahs aya yang baru itu lho bu”
I.Ester       :   “Aah tadi ga ada bilang begitu ko”
I.Pendeta  :   “Yasudah, malu tuh diliatin sama penonton, udah tua ko pada berantem. Saya permisi duluan ya ibu-ibu, mau ada kegiatan”
Ibu-Ibu     :   “Iya mari bu silahkan”
Jeng Oki   :   “Saya juga pergi ya ibu-ibu”
Ibu-ibu     :   “Iyuuhh”
Jeng Oki   :   “Eeh itu punya saya”
*Ibu Pendeta dan Jeng Oki meninggalkan panggung*

I. Radit     :   “Alamak emosi kali aku dibikin Jeng Oki itu”
I. Luna     :   “Sama bu saya juga”
I. Ester      :   “Biasa itu ibu-ibu, kalau orang baru kaya ya begitu”

*masuk Ceu Nomnom dari arah penonton/depan panggung*
C. Nom    :   “Jengkoolll, Jengkooll, bu jengkol bade ? (nawarin penonton). Duh tumben sepi ini yang belinya yah. Eh itu ada ibu-ibu komplek. Jengkol jengkol, bu jengkol nya mau beli?”
I.Luna      :   “Iih saya mah ga suka, ga enak, bau lagi”
C. Nom    :   “Ini mah jengkolnya beda bu, engga bau lagi”
I. Ester      :   “Apa bedanya ?”
C. Nom    :   “Jengkol ceuNomnom mah khas bu, nih nya ada rasa strawberry, jeruk sama anggur bu”
I. Luna     :   “Pinky swear kitty swear banana cherry strawberry swear ?”
C.Nom     :   “Tah kalau rasa apa tadi kata ibu teh ? Pinky, banana sama cherry ya ? itu mah belum ceu nomnom bikin bu”
I. Naomi   :   “Lah Ceu Nomnom mah ada-ada ajalah”
C. Nom    :   “IIh beneran bu, sok coba liat dulu atuh”
I. Ester      :   “Ceu Nomnom kenapa dari dulu jualan jengkol terus ?”
C. Nom    :   “Buat sekolah anak saya bu, oh iya bu, saya mau Tanya bisa ?”
I. Ester      :   “Tanya apa bu ?”
C. Nom    :   “Anak saya mau jadi Polisi, tapi dia mau ambil kuliah hukum duluk atanya, kalau di Maranatha itu dapat beasiswa dari gerejaya bu ? caranya gimana bu ?”
I. Radit     :   “Eh Ceu Nomnom, gaya kali kau mau kuliahkan anakmu, mau jadi Polisi pula, macam mampu aja kau”
I. Luna     :   “Ceu, biaya kuliah tuh mahal tau, belum biaya hidupnya, apalagi di kota besar”
I. Ester      :   Ibu serius apa becanda ?”
C. Nom    :   “Serius bu, ya anak saya mau coba, kan ga ada yang tau nasib seseorang”
I. Ester      :   “Kalau masalah itu ceu nomnom coba tanya majelis jemaat aja, mereka lebih tau”
I. Luna     :   “Kalau saya boleh saran ya bu, mending anak ibu suruh nikah aja, cari istri yang kaya, gapapa jelek juga bu, dari pada mimpi tinggi-tinggi tapi ga kesampean”
I. Radit     :   “Iya betul itu, macam anaknya pintar aja, lebih baik anak saya deh”
C. Nom    :   “Saya tau kemampuan anak saya bu, makanya saya berani, kok ibu-ibu bukannya mendukung malah menjatuhkan”

*Datang Radit dari arah penonton / samping panggung dengan gaya mabuk sambil nyanyi / dengar musik berjalan menghampiri ibu-ibu*
C. Nom    :   “Ibu, itu bukannya anak ibu si Radit ya ? Yaah lebih baik anak saya lho bu”
Radit        :   “Helloo mama, helloo ibu-ibu, mak bagi hepeng dulu
I.Radit      :   “Kamu apa-apaan ? Bikin malu mama aja, ayo pulang !* (sambil jewer telinga Radit)
Radit        :   “Ceu Nomnom ke rumah ya radit mau beli jengkol jengkol jengkol”
*Ibu Radit + Radit meninggalkan panggung*

C. Nom    :   “Ya udah atuh bu, saya mau ngider lagi, takut keburu sore” (kemudian meninggalkan panggung)
I.Naomi    :   “Liat ga tuh bu tadi si Radit ? Ibunya hina-hina anak orang eh anaknya malah lebih kacau”
I. Luna     :   “Iya bu, tadi tuh saya pengen ketawa, tapi saya tahan”
I. Ester      :   “Makanya kita jangan menghina orang seperti tadi, jadinya malu sendiri kan. Ya udah yu aah pulang bu, udah mendung”
I. Luna     :   “Iya yu bu”
*Ibu-ibu meninggalkan panggung*

Narator     :    Nah lho penonton, padahalkan sebelumnya mereka kompak membicarakan orang lain, eh ternyata Ibu Radit juga diam-diam dibicarakan di belakang lho. Inilah kehidupan, ketika kita kompak membicarakan orang lain, maka kita juga akan dibicarakan saat kita tidak bersama mereka. Hati-hati ya penonton
                     Beberapa Tahun kemudian ...

*Suasana di rumah Ibu Radit*
I.Radit      :   (menangis meratapi tumpukan tagihan utang)
Radit        :   “Ma, aku pulang”
I.Radit      :   “Ga usah pulang kau ! Sana teruslah kau mabuk-mabuk, judi, terus sampe puas kau siksa mama mu ini. Lihat, lihat ini, semuanya tagihan hutang, bayar pake apa ? semua sudah habis kau jual, rumah inipun kau gadaikan cuma untuk mabuk sama judimu itu. Udah puas kau sekarang siksa mama mu ini ?”
Radit        :   “Ma, dengar dulu penjelasanku, itu ma, kalau aku menang judi, bisa ku ganti semua uang mama yang ku pake”
I.Radit      :   “Menang kau bilang ? Kalau menang judi yang kau harapkan, Tuhanpun ga akan kasih kau menang ! Amagoamang, kenapa kau kek gini Radit, lihat anaknya ceu Nomnom udah sukses dia, udah banyak uangnya, kau terus aja begini dari dulu, bisa gila mama kau buat”
Radit        :   “Nah ini yang ga aku suka, dari mulai aku dalam perut mama sampai aku sebesar ini, cuma orang lain terus yang mama urusin, dikit-dikit bandingin aku sama anaknya ceu Nomnom. Ma, aku yang anak mama bukan dia ! Kapan mama mau peduli sama aku ? Kapan mama perhatiin aku ? Mama sibuk terus perhatikan hidup orang, mama sibuk ngomongin orang, sampe mama lupa kalau mama punya aku ! Sekarang udah begini mama salahkan aku ? Mama kemana selama ini ma ? Saat aku butuh mama, mama gak ada, saat aku butuh support mama, mama cuek ! Aku emang anak laki-laki ma, tapi aku juga butuh perhatian mama.” (nada emosi)
I.Radit      :   “Nak, dengarkan dulu mama nak, bukan gitu maksud mama”
Radit        :   “Udahlah ma, semuanya salah aku kan ? mama tau ga gimana perasaan aku ma ?
                     *Nyanyi* Sakitnya tuh disini di dalam hatiku, sakitnya tuh disini melihatmu begini, sakitnya tuh disini pas kena hatiku, sakitnya tuh disini kau tak sayangi aku, sakit, sakit, sakitnya tuh disini.
                     Sakit ma, sakit” (sambil pergi meninggalkan Mama)
I.Radit      :   Radit, radit, kemana kau nak ? Ooh Tuhan, salah apa aku, kenapa semuanya jadi begini” (sambil membereskan kertas kemudian meninggalkan panggung)

Narator     :   “Hoalaah ko malah jadi menyalahkan Tuhan ya penonton, seharusnya kita selalu ingat dengan ayat alkitab yang mengatakan “Apa yang engkau tabur, maka itulah yang akan engkau tuai”, kita di ingatkan lain kali jangan terlalu sibuk mengomentari kehidupan orang lain, lebih baik kita sibuk memperbaiki kehidupan kita”

*Berkumpul Ibu Ester, Ibu Luna, Ibu Naomi*
I.Ester       :   “Eh ibu-ibu udah denger kabar baru belum ?”
I.Luna      :   “Kabar apa bu ?”
I.Ester       :   “Itu lho bu, katanya si Radit banyak hutangnya dimana-mana, dan katanya nih dia mau di penjara gara-gara ga bisa bayar hutangnya”
I.Naomi    :   “Tuh kan, benar apa kata pepatah “Mulutmu harimau mu”
I.Ester       :   “ Iya bener bu, aah kalau gitu saya ga mau keseringan ngomongin orang lagi deh, takut kena karmanya”
I.Naomi    :   “Iyah bener bu, kita jadikan ini pelajaran buat kita”
I.Luna      :   “Pokoknya kalau salah satu dari kita lupa, kita saling mengingatkan ya bu”
I.Ester       :   “Eh itu ibu Radit”
*masuk Ibu Radit*
I.Radit      :   “Ibu-ibu tolongin saya, saya tau ibu-ibu pasti udah dengar berita tentang anak saya kan ? Saya bingung bu, saya takut, saya harus gimana lagi ?” (nada nangis)
I.Ester       :   “Iya bu, kami sudah dengar, gimana ya bu, saya juga lagi banyak pengeluaran nih, jadi ga bisa bantu ibu”
I. Luna     :   “Saya juga baru aja kemarin pulang dari luar negeri bu, saya telat dapat kabarnya bu, maaf  ya bu”
*masuk Ibu Pendeta*
I.Pendeta  :   “Selamat siang ibu-ibu, sedang apa ini ibu-ibu ?”
I.Naomi    :   “Eh kebetulan ibu Pendeta lewat, ini lho bu kita lagi cari solusi buat bantu selesaikan masalahnya ibu Radit”
I.Pendeta  :   “Ooh bagus itu, sesama saudara seiman sudah seharusnya kita saling tolong menolong, betul tidak penonton ?”
I.Naomi    :   “Kalau boleh saran sih bu, mending ibu minta bantuan ke Ceu Nomnom aja, dia kan udah sukses bu, siapa tau bisa bantu ibu, anaknya juga kan sudah jadi polisi, siapa tau bisa bantu masalahnya Radit”
I.Radit      :   “Tapi apa dia mau bantu saya bu, saya udah sering banget menghina dia”
I.Pendeta  :   “Kita tidak akan tau sebelum mencobanya bu, tapi kalau menurut saya sih Ibu Nomnom pasti mau membantu ibu”
I.Radit      :   “Tapi saya malu bu, saya takut”
I.Pendeta  :   “Ya sudah kalau begitu bagaimana kalau kami antar ibu kesana, gimana ibu-ibu ?”
I.Ester       :   “Iya boleh bu”
I.Pendeta  :   “Ya sudah mari kita pergi bu”
*Para pemain meninggalkan panggung*

*Jeng Oki (berpakaian Asisten Rumah Tangga) sedang beres2/menyapu)
I.Pendeta  :   “Permisi, selamat siang”
Jeng Oki   :   “Selamat siang, eh ibu Pendeta, eh ibu-ibu komplek juga, silahkan masuk bu”
I.Naomi    :   “Hah ? Ibu OMG Hellooww ?
I.Luna      :   Pinky swear kitty swear banana cherry strawberry swear ? Jeng Oki kerja disini?”
Jeng Oki   :   “Iya bu, sudah 4 bulan saya kerja disini semenjak suami saya di penjara. Oiya ibu-ibu mau bertemu ibu Nomnom atau siapa ya ?
I.Pendeta  :   “Iya kami ada perlu sama ibu Nomnom, ibunya ada bu ?”
Jeng Oki   :   “Ada bu, sebentar saya panggilkan” (kemudian memanggil ibu Nomnom)
I.Luna      :   “Eh ya ampun saya baru tau dia jadi asisten rumah tangga, pantesan dia pindah dari komplek ya, ternyata ketauan korupsi toh” (bisik-bisik ke ibu Ester + ibu Naomi)
I.Ester       :   “Ssstt, kita kan udah janji ga ngomongin orang bu”
I.Luna      :   “Ooh iya saya lupa bu”
*masuk Ibu Nomnom*
C. Nom    :   “Eeh ada ibu-ibu, ada apa bu ?”
I.Pendeta  :   “Begini bu, kami ada perlu minta bantuan, maaf  kalau mungkin sebelumnya kami mendadak datang tanpa hubungi ibu”
C.Nom     :   “Iih atuh ibu Pendeta mah lah kaya ke siapa aja, ini teh ceu Nomnom tukang jengkol tea, ga usah resmi gitu ngomongnya, minta bantuan apa bu ?”
I.Radit      :   “Ceu Nomnom, sebenarnya saya yang mau minta bantuan sama ceu nomnom, sebenarnya saya malu sama ceu nomnom, saya minta maaf ceu” (nangis sambil mau sujud)
C.Nom     :   “Eeh apa atuh ibu, ga usah begini, saya mah udah maafin, saya mah ga ambil pusing omongan ibu-ibu dulu, justru saya bersyukur, itu jadi cambukan buat saya, makanya saya bisa begini, sok atuh ibu mau minta tolong apa ?”
I.Radit      :   “Anak saya ceu, anak saya kerjanya cuma mabuk sama judi, sekarang semua udah habis dia jual termasuk rumah , dia punya hutang dimana-mana, dia mau di penjara ceu kalau sampai dia ga bisa bayar hutangnya. Tolong saya ceu, senakal-nakalnya anak saya, saya ga mau dia di penjara, saya mohon tolong saya” (sambil menangis dan memohon)
C.Nom     :   “Saya turut sedih dengan yang ibu alami, hidup memang terkadang tidak selalu berjalan dengan yang kita harapkan, ibu yang sabar ya, tapi gimana ya bu, anak saya lagi dinas keluar kota”
I.Radit      :   “Tolong ceu, saya mohon tolong saya, tolong ceu”
C.Nom     :   “Ya sudah nanti saya coba hubungi anak saya, tapi saya cuma bisa bantu semampu saya bu, semoga bisa mengurangi beban masalah ibu”
I.Radit      :   “Beneran ceu ? terimakasih terimakasih terimakasih ceu”
C.Nom     :   “Iya bu sama-sama”
I.Ester       :   “Kami juga minta maaf ya ceu nomnom, eh sekarang mah udah jadi Ibu Nomnom ya”
C.Nom     :   “Aah ibu mah bisa aja, dipanggil ceu juga gapapa”
*Ibu-Ibu saling meminta maaf*

I.Pendeta  :   “Nah penonton, kita kembali di ingatkan, bahwa roda kehidupan masih berputar, jangan tinggi hati saat kita berada di atas, dan jangan rendah diri saat kita berada di bawah, seperti ada tertulis dalam Alkitab Pengkhotbah 3:1 “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya”. Percayalah tidak ada usaha yang sia-sia. Tuhan memberkati.”

*mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tokoh, tempat dan kejadian, semua ini hanyalah fiktif belaka*