Thursday, November 15, 2012

Teks Drama Natal Pemuda / Remaja

#Teks #Naskah #Drama #Pemuda #Remaja #Kristen #Natal #Terbaru
 
syalom :) akhirnya teks dramanya bisa gw post di blog. Trimakasih yg sudah kirim email sebelumnya. Ini teks drama hasil karangan pribadi, jadi mohon maaf apabila kurang bagus. Semoga bisa membantu dan menjadi berkat buat temen-temen semua :) God bless you, dan selamat mempersiapkan hari kelahiran Tuhan Yesus :)



Narator : Tuhan takkan pernah membiarkan kita sendirian, Ia kan selalu memberikan kita kawan dikala suka dan duka, ya mereka adalah keluarga. Dalam drama ini kami akan menceritakan tentang arti sebuah keluarga.

*di rumah
Ayah   : “bu, anak2 udah siap berangkat sekolah belum”
Ibu     : “oh iyah sebentar saya panggilkan anak2 ya pa, anak2 ayoo berangkat sudah siang”
Eza      : “ayah aku udah ganteng belum nih ?”
Icha     : “ibuuu aku ga bisa pake dasinya *dasi SD berantakan”
Ibu       : “ya ampuun sini-sini ibu bantu”
Ayah   : “nah sudah siap kan ayo berangkat”
Ibu       : “ya sudah klo gitu ibu jga mau masak di dapur, sekalian bangunin ade”
*ayah, dan anak2 berangkat, sementara sang ibu pergi ke dapur (belakang panggung)

--suasana di sekolah Eza--
Eza      : “eh coy gw ikutan gabung dong
Fajar    : “eh sini ayo kita maen bareng”
Andi    : “ayoo masbro sini”
*ketika sedang asyik bermain muncul seorang siswa laki-laki culun (pake kacamata, celanan jojon, bawa buku pelajaran) menabrak mereka
*bruk
Ucup   : “mmm ma ma maaf “
Eza      : “eh lo yang bener dong kalo jalan”
Fajar    : “eh lo mata udah 4 tetep aja ga ngeliat”
Andi    : “mau gw lempar bola lo ? jawab woy ! (mendorong siswa cupu sampai jatuh)”
Ucup   : “mma ma maaf saya ga sengaja”
Fajar    : “ma ma maaf kata lo ? kalo bilang maaf masalah selesai ga bakalan ada yang namanya penjara, pengacara, polisi sama yang lainnya wooyy”
*muncul 3 siswi*
Uthari  : “eh kamu gapapa ?”
Ucup   : “ga ga gapaaa” *omongan terputus*
Eza      : “hhmm dia gapapa ko, tadi dia jatuh kesandung, makanya kita nolongin, yoi ga coy ?
Fajar+Andi: yoi masbroo” *Fajar dan Andi membangunkan siswa cupu*
Ester    : “ah bohong kalian, kita liat ko kalian dorong dia”
Fajar    : “ah masa sih ? ngga ko ngga”
Fanya  : “temen-temen, kalian itu ga boleh kaya gitu. Ingat firman Tuhan di matius 19:19 “Hormatilah ayahmu dan ibumu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dririmu sendiri”. Maka dari itu kita harus mengasihi teman kita”
Ester+utari: “That’s right fanya”
Ester    : “dan ingat juga firman Tuhan pada Galatia 6:7b “karena apa yang di tabur orang, itu juga yang akan dituainya”. Jadi kalau kalian saat ini berbuat jahat pada orang, maka tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti kalian dijahati orang”
Andi    : “aah macam pendeta saja kau bicara”
Uthari  : “Lho kita kan hanya mengingatkan kalian, ingat teman-teman Amsal 18:24 “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara”. Maka pandai-pandailah kita memilih teman, jangan sampai kita salah pilih teman”
F+A+E : “oohh terus kita harus nortor sambil bilang wow gitu ? haha *meledek nortor sambil bilang wow*
E+E+U: “it’s not good”
Ucup   : “sudah teman-teman saya tidak apa-apa ko”
Fajar    : “tuh kan gapapa, dia udah biasa ko, kalian aja yang rempong kaya ema-ema”
Eza      : “hhmm uthari mamamu boru silaen ya ?”
Uthari  : “lho ko tau ?”
Eza      : “soalnya tak ada yg lain silaen dirimu dihatiku”
Uthari  : “Hah ? Cius ? Miapa ?”
Eza      : “Cius, Mie Gomak deh (muka kesel) eh dan kamu pasti boru sagala ya ?”
Uthari  : “iyah bener, ko tau ? “
Eza      : “soalnya sagala hidupku hampa kalau tanpamu”
Uthari  : “aah kamu bisa aja” (senggol eza, karna terlalu keras eza terjatuh)
---tengtengteng bunyi bel---
Ester    : “eh udah bel tuh masuk duluan yu”
Eza      : “kita juga mau masuk kelas ko, ayo bareng”
*Uthari dan Eza meninggalkan panggung*

Narator: “Ternyata kepanjangan dari SMP bukan lagi Sekolah Menengah Pertama, melainkan Saatnya Mulai Pacaran. Ya begitulah kenyataannya, lalu bagaimana dengan siswa Sekolah Dasar ?”

Guru    : “Pagi anak-anak”
Murid  : “Pagi ibu guru”
Icha     : “bu, ko kita duduknya di bawah sih, itu penonton aja duduk di kursi ?”
Guru    : “Iyah gapapa ya, kalo kita duduknya di kursi nanti ga bisa bedain mana pemain dan Penonton”
Murid  : “Ooh gitu ya bu”
Guru    : “nah sekarang kita mulai belajarnya ya. Kemarin ada PR membuat puisi kan ? nah sekarang Risa kamu ke depan, baca puisimu”
Risa     : “baik bu. Baca sekarang bu ?”
Guru    : “iyah”
Risa     : “eehh penonton, denger ya aku mau baca puisi. TERMENUNG” (baca judul dengan keras kemudian diam dan tunduk)
Guru    : “Loh loh, mana puisinya ?”
Risa     : “Judulnya kan termenung bu, nah tadi itu puisinya, aku termenung”
Guru    : “sudah sudah kamu duduk sana, Lusi sekarang bagianmu”
Lusi     : “baik bu, eh penonton ? aahh ga keras suaranya, eh penonton ? (menyapa penonton) denger ya aku juga mau baca puisi nih. SUARA HATI (baca judul dengan keras, kemudian diam)
Guru    : “Lusi, mana suaranya ?”
Lusi     : “Lah kan suara hati bu, jadi baca puisinya dalam hati.”
Guru    : “ya ampun, sudah-sudah duduk, sekarang bagianmu Icha, jangan seperti mereka tadi ya”
Icha     : “tenang bu, ehm siap-siap ya. AKU TAK MAMPU BICARA (baca judul dengan keras, kemudian seolah berpuisi namun tanpa suara)”
Guru    : “icha, mana suaranya ? keluarkan suaramu”
Icha     : “ibu, kan judulnya aku tak mampu bicara, jadinya ya ga ada suaranya”
Guru    : “sudah sudah sekarang duduk lagi. Puisi kalian tak ada yang sesuai harapan ibu, sekarang kalian jawab pertanyaan ibu. Kapan R.A. Kartini wafat ?”
Lusi     : “Laah ga tau kami bu, soalnya pa’pendeta belum pernah wartakan berita duka itu di gereja bu. Iya kan teman-teman ?”
Icha+Risa: iyah bener bu.
---tengtengteng bunyi bel---
Murid  : “bel pulaaannngg”
Guru    : “ya sudah kalian boleh pulang, perbaiki Puisi kalian ya.”
Murid  : “Siaap bu”
Guru    : (menyusul keluar panggung)

*suasana di rumah*
Ibu dan Echa membersihkan rumah, kemudian Ayah muncul.
Ibu       : “Lho ayah ko sudah pulang ?”
Ayah   : “stress saya bu, perusahaan kita hampir bangkrut, hutang di bank belum dibayar, karyawan minta naik gaji, sekolah anak lah, belum lagi pengobatan echa yang biayanya besar tapi tetap saja dia ga sembuh-sembuh (nada marah)”
Echa    : “Ayah, ayah ko jadi marah sama ade, ade salah apa yah ? (bicara selayaknya anak cacat yang tak mampu bicara sempurna)”
Ayah   : “Diam kamu, dasar anak ga berguna, dasar anak caa” (perkataan terputus oleh ibu)
Ibu       : “Ayah, ayah ga boleh ngomong gitu” (nada sentak)
Ayah   : “aah sudahlah kalian semua sama saja, lebih baik saya pergi”
Echa    : “Ayah, ayah jangan pergi”
Ibu       : (memeluk Echa) “nak, ayahmu sedang banyak masalah, jangan dengarkan perkataannya ya”
Echa    : “Ibu, aku ingin sendiri, tinggalkan aku” (nada menangis)
*ibu pergi meninggalkan panggung*
Echa    : (merenung, berdoa, sambil diiringi lagu Ayah – seventeen)
  Bapa, mengapa aku berbeda ? Mengapa aku tak sempurna ? Apa aku tak pantas jadi sama seperti mereka ? Apa aku tak layak menjadi sempurna ?
  Tuhan, telah banyak biaya yang ayah keluarkan untuk pengobatanku, namun mengapa aku tak kunjung sembuh ? Kini ayah marah padaku, ia mencaciku, hancur hatiku Bapa ketika ayah berkata itu. Percuma aku hidup Tuhan, jika aku hanya menyulitkan mereka. Aku sayang mereka Tuhan, andai mereka tahu sulitnya menjadi aku, malunya menjadi aku
   Ayah, engkau pahlawanku, ibu kau bidadariku, walau aku tak dapat sampaikan itu padamu. Ku harap kalian juga menyayangiku

*Eza dan Icha mendengarkan di belakang, dan bersembunyi ketika Echa pergi meninggalkan panggung*
(Echa bangun dan meninggalkan panggung, kemudian Eza dan Icha masuk panggung)
Icha     : “ka, echa kenapa ya ?”
Eza      : “kaka juga ga tau cha”
Ibu       : “ada apa nak ?”
Eza      : “tadi echa menangis bu, memang apa yang terjadi ?”
Ibu       : “ceritanya begini  (seolah bercerita)”
*kemudian ayah muncul*
Ayah   : “hey ngapain kalian ? minggir minggir” (nada mabuk)
Eza      : “Ayah, ayah ko mabuk begitu ?
Ayah   : “Mabuk ? siapa yang mabuk hah ? (nada mabuk)”
Icha     : “Ayah, ayah kenapa sih ? udah tua mabuk terus, inget sama kesehatan !” (nada tinggi)
Ayah   : “Diam kalian, kesehatan kesehatan memang kamu dokter ? so tau kesehatan kamu !” (nada marah)
Eza      : “Ayah, kita ini keluarga, seharusnya kalo ayah ada masalah ayah cerita sama kita, bukan malah mabuk kaya gini” (nada tinggi)
Ibu       : “Ayah, kalo ayahnya saja sudah begini gimana anak-anak nanti ? ayah seharusnya berikan contoh yang baik untuk anak-anak !” (nada marah)
Ayah   : “Diam kamu *plak (menampar ibu) jangan mengat ur saya kamu. Anak sama ibu sama saja, lebih baik saya pergi !” (kemudian ayah meninggalkan panggung)
Icha     : “Ayah, ayah jangan pergi”
Eza      : “Ibu, ibu gapapa ?”
Ibu       : “Ibu tidak apa-apa nak”
Icha     : “Ibuuu” *memeluk ibu*
*berdiam beberapa menit, kemudian bunyi suara telepon*
Echa    : “Ibu, ada telepon” *mengantarkan telepon kepada ibu*
Ibu       : “Halo selamat siang”
Telepon: “Selamat siang benar ini dengan kediaman Bapak. Yohanes ?”
Ibu       : “Iyah benar, saya istrinya, ada apa bu ?”
Telepon: “Kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan, suami ibu, baru saja mengalami kecelakaan besar karena ia mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, mungkin ibu dan keluarga bias langsung datang ke rumah sakit umum Jakarta untuk melihat langsung keadaan bapak  dikarenakan keadaannya sangat kritis.”
Ibu       : “Apa ?” (nada kaget) *telepon genggam terjatuh*
Echa    : “Ibu, kenapa bu ?”
Ibu       : “Ayah kalian kecelakaan nak, dan sekarang keadaannya kritis”
Eza      : “Ayah kecelakaan ?” (nada syok)
Icha     : “Ayaahhh, aaayyyyaaahhh”
Ibu       : “Ayo nak, kita bergegas ke rumah sakit”
*semua pemain meninggalkan panggung*
Narator: Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita, terkadang banyak hal yang tak kita duga terjadi dalam kehidupan kita, namun ingatlah rencana indah telah Tuhan siapkan bagi kita.

---suasana di rumah sakit---
*ibu dan anak-anak bersedih sejenak, kemudian datang teman-teman Eza dan Icha, serta Ibu Guru
Guru    : “selamat siang bu”
Ibu       : “lho ibu, selamat siang bu”
Guru    : “kami sudah mendengar tentang suami ibu, dan saya beserta anak-anak sengaja datang kemari untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhan bapak bu.”
Eza      : “terima kasih bu, terimakasih teman-teman, kalian sudah repot-repot datang kemari”
Fajar    : “aah ngga ko masbro kita ga kerepotan”
Guru    : “ya sudah kalo begitu kita doa bersama untuk kesembuhan ayah teman kita, berdoa dimulai”
*seluruh pemain berdoa di panggung sambil diiringi lagu mujizat nyata*
Guru    : “berdoa selesai”
Icha     : “Terima kasih ibu dan teman-teman, semoga ayah bisa sembuh, semoga ayah bisa merayakan natal bareng kita”
Risa     : “tenang cha, ayah kamu pasti sembuh ko”
Uthari  : “iyah, Tuhan ga akan kasi pencobaan yang melebihi kekuatan umatnya”
Ucup   : “mujizat Tuhan itu nyata, yang penting kita yakin dan percaya.”
Guru    : “benar kata teman-teman kalian nak, Tuhan Yesus pasti selalu bersama kita, Ia pasti sembuhkan
penyakit ayah kalian. Kalo begitu kita permisi pulang ya bu.”
Ibu       : “sekali lagi terima kasih bu.”
*ibu guru dan teman-teman meninggalkan panggung, kemudian di susul oleh ibu dan anak-anak*
Narator: Tuhan tak akan pernah memberikan pencobaan melebihi kekuatan kita. Keluarga menjadi penguat kita di dunia ini. Ketika kita suka maupun duka, keluargalah yang selal u setia mendampingi kita.

*musik natal, pemain masuk panggung (kecuali ibu, ayah dan echa)
Narator: Perayaan Natalpun telah tiba, semua siswa hadir dalam perayaan natal, namun Eza dan Icha masih bersedih karena keadaan ayah mereka
Andi    : “coy, bokap lu gimana kabarnya ?”
Eza      : “Kemarin udah baikan, tapi kayanya ayah masih belum bisa datang”
Guru    : “tenang aja, ayah kalian pasti datang ko, itu mereka”
*ayah, ibu dan echa masuk panggung (ayah memakain perban di kepala dan tangan)
Eza+Icha : aayyaaahh (menghampiri ayah)
Icha     : “ayah sudah sembuh ?”
Ayah   : “iya nak, berkat mujizat Tuhan dan berkat doa kalian semua. Maafkan ayah ya”
Eza      : “maafin kita juga ya yah”
Guru    : “nah, sekarang saatnya kita bersenang-senang anak-anak”
Semua : “yaaa selamat natal semua”
*semua pemain meninggalkan panggung sementara, dan bersiap untuk masuk panggung kembali

Narator: Pemirsa, cerita ini hanyalah fiktif belaka, mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tokoh karakter ataupun peristiwa. Kami Pemuda Remaja GKP Kadipaten akan menampilkan sebuah lagu special untuk Papa dan Mama kita. Papa, mama, ini semua special untuk kalian.

*semua pemain naik panggung sambil membawa bunga mawar*
Pujian Bersama : Medley lagu Ayah – Seventeen dan Lagu Kenny – Cinta untuk mama
*saat menyanyikan lagu cinta untuk mama, semua pemain turun panggung dan menyerahkan bunga
mawar untuk mama dan papa masing-masing, kemudian kembali ke panggung*

CREATED BY : MONALISA SILAEN (GKP KADIPATEN)

Ket :
Eza      : Siswa SMP
Fajar    : Siswa SMP
Andi    : Siswa SMP
Uthari  : Siswi SMP
Ester    : Siswi SMP
Fanya  : Siswi SMP
Icha     : Siswi SD
Risa     : Siswi SD
Lusi     : Siswi SD
Echa    : Gadis cacat
Ucup   : Siswa Cupu

-          Setelah lagu cinta untuk mama bisa di lanjutkan dengan lagu Natal, supaya suasana Natal tetap ada.
-          Drama akan lebih terasa lucu, berkesan, dan bermakna apabila kostum di sesuaikan dengan peran masing-masing

new drama >> http://monaonna.blogspot.com/2013/08/drama-natal-terbaru-pemuda-pemudi-remaja.html

No comments:

Post a Comment